Beranda / Headline / KEMARUK

KEMARUK

Oleh Elma Yanthi

*Serial Artikel Pilihan

Berdasarkan data Ditjen Pajak tahun 2017, kontribusi orang orang kaya termasuk konglomerat dalam membayar pajak hanya 0,8 persen dari total penerimaan pajak. Angka ini sangat kecil dibandingkan orang orang kaya di negara lain, dimana penerimaan pajak dari mereka bisa mencapai 30-40% dari total penerimaan pajak. Sayangnya pemerintah Indonesia lebih memanjakan mereka dari pada rakyat biasa. Kecilnya penerimaan pajak dari konglomerat adalah tidak adanya kesadaran dan kepatuhan sebagai kewajiban mereka untuk berkontribusi kepada negara. Di beberapa negara, para orang kaya memiliki penanganan khusus. Misalnya, untuk menangani pengusaha yang melakukan agressive tax planning, pemerintah membuat unit khusus untuk mereka.

Jika kita bandingkan dengan cara pemerintah menanggulangi defisit anggaran BPJS adalah dengan mengejar penunggak asuransi kesehatan itu sampai dengan ancaman yang berimbas kepada kebutuhan sosial lainnya seperti SIM, Paspor, masuk ke perguruan tinggi dsbnya. Tapi pernahkan pemerintah melakukan hal yang sama  kepada konglomerat dalam penerimaan pajak. Jangankan dikejar-kejar seperti mengejar rakyat jelata, malah pemerintah memberikan keringanan kepada mereka dengan potongan pajak yg dinamakan tax amnesty.

Meskipun pajak dan BPJS adalah 2 produk yang berbeda, namun keduanya sama sama dibutuhkan negara untuk meningkatkan pelayanan dan sebagai cadangan keuangan negara. Tapi pemerintah dalam menyikapi hal ini sangat berbeda. Pemerintah dari satu sisi selalu kejam kepada rakyat jelata dengan berbagai alasan. Kekejaman ini dapat dilihat dari 1 produk berimbas kepada semua kebutuhan seperti SIM, Paspor dan syarat masuk perguruan tinggi. Tapi kita tidak pernah mendengar pemerintah begitu tegas kepada konglomerat, seperti contoh tegas kepada pengemplang pajak dan korporasi yang membakar hutan Indonesia yg sebagian besar kepunyaan elite dan konglomerat.

Tunggakan BPJS seharusnya dikaji lebih detil untuk mengetahui mengapa begitu besar rakyat menunggak asuransi  kesehatan ini. Tidak serta merta mengeluarkan kebijakan sepihak tanpa ada perbaikan pelayanan rumah sakit. Saya mengalami sendiri ketika mengantarkan ibu saya periksa ke dokter jantung, beliau hanya ditanya tanpa diperiksa lalu diberi resep. Cara begini sangat rentan kepada mall praktek. Begitu juga administrasi yang berbelit belit. Sehingga dengan pelayanan rumah sakit yang seadanya dan sangat buruk, masyarakat jadi malas membayar asuransi ini.

Disatu sisi menurunnya kesadaran masyarakat akibat dampak dari PHK dan semakin sulitnya keadaan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat. Dengan kenaikan TDL setiap 6 bulan akan berdampak kepada kenaikan kebutuhan sosial lainnya. Tentu saja masyarakat lebih mendahulukan kebutuhan yang lebih penting dibandingkan membayar asuransi kesehatan. Jika pemerintah ingin rakyat patuh pada kewajibannya seharusnya dibenahi pelayanan rumah sakit dan tumbuhkan perekononian yg berpihak kepada rakyat.

Alih alih meningkatkan taraf hidup rakyat, justru pemerintah banyak melakukan PHK disana sini lalu digantikan dengan tenaga asing dari Cina. Contoh salah satu perusahan besar di Riau yang bergerak dalam bidang pulp and paper, melakukan PHK besar besaran. Setelah itu mereka rekrut tenaga kerja dari Cina. Jika kita masuk ke perusahaan tsb tidak seperti 5 tahun lalu, hampir semua pekerja didominasi oleh tenaga kerja dari Cina. Pemerintah harusnya menyadari beberapa kebijakan dibidang ekonomi sangat membebankan masyarakat kecil. Sementara pemerintah hanya tahu menuntut dan memeras rakyat. Disaat kehidupan serba susah seperti sekarang, rakyat seperti sapi perah yang harus patuh kepada tuannya. Sementara sang tuan tidak memberi makan yang cukup bagi sapi tersebut agar kualitas susunya terus meningkat.*

Sumber: WA Group Cakaplah

Catatan saya: Ini suara rakyat. Jika anda punya pendapat berbeda silakan. Indahnya berbagi..

Tentang fizboi

Baca Juga

Berkurbanlah

Oleh: TereLiye (Kisah Inspiratif) Ada dua kakak-adik perempuan, kita sebut saja, satu namanya Puteri (usia …

Tinggalkan Balasan