Beranda / Headline / Laila, Menjemput Mimpi

Laila, Menjemput Mimpi

*Serial Traveling (Liputan Umroh, bagian 1)

Perempuan tua itu hanya petani karet yang miskin. Tapi kerinduannya pada tanah suci menjadi doa yang tak pernah ia lupakan setiap selesai sholat. “Ya Allah, jangan matikan diriku sebelum Engkau beri aku kesempatan berada di tanah suci,” gumamnya dalam doa setiap malam menjelang tidur.

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Makkah-Madinah

Beberapa tahun lalu. Ketika itu, saya duduk bersebelahan dengannya. Kami sedang berada di atas awan dalam perjalanan menuju Makkah tempat haji dan umroh umat muslim sedunia. Pesawat Boeing 747 seri 400 kami berada di ketinggian 36.000 kaki di atas permukaan laut. Suhu udara di luar pesawat mencapai minus 54 derajat Celcius. Dari atas pesawat tampak di bawah kami padang pasir merah dan gersang seolah tanah di planet Mars.

Sejak pesawat memasuki wilayah Timur Tengah mulai dari Salsalah-Sanaan-Addilan dan Quraifa menuju Jeddah pemandangan di bawah adalah lautan pasir dan gunung batu tak bertepi. Memantulkan warna merah kecoklatan terlihat dari atas. Bentangannya mencapai 2.000 Km. Subhanallah! Jaraknya sama dengan dua kali perjalanan bolak-balik Pekanbaru-Jakarta. Pemandangan  ini kontras dengan sebelumnya ketika kami terbang melintasi Sumatera menuju ke arah barat melintasi Samudra Hindia.

Ketika itu kami melihat pohon yang hijau, ladang dan hutan. Setelah itu kumpulan warna biru lautan yang memantulkan warna langit juga terlihat dari jendela pesawat. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB ketika pramugari mulai merapikan hidangan yang diberi sebelum pesawat mencapai Bandara Jeddah. Laila Hasan (63) segera melipat meja dan merapikan di sandaran kursi di depannya. Matanya menerawang jauh ke luar jendela. Sebutir air mata menggelinding begitu saja. Ia seolah tak percaya kini tengah berada di badan burung besi yang melintasi benua menuju Baitullah yang selama ini menghiasi mimpi tidurnya.

Sesekali warga Duri asal Siak ini menyeka matanya yang terus saja berkaca-kaca. “Saya hanya seorang penyadap karet yang miskin,”  ujarnya pada saya. Setiap mengantar orang pergi haji, ia kerap dipanggil orang dengan sebutan Mak Haji. “Entah olok-olok entah tidak, saya tak tahu. Tapi saya mengaminkannya di hati. Kalau tak dapat haji, umroh pun jadilah. Yang penting saya sampai ke Tanah Suci,” ujarnya. Saya hanya mengangguk-angguk kecil. Doa dan harapannya ternyata tak sia-sia.

Dia diberangkatkan anak tertuanya yang guru SD di Kandis. Sang anak rupanya bernazar. Jika ia lulus ujian sertifikasi guru, semua tabungannya selama ini diberikannya untuk biaya ibunya pergi ke Tanah Suci. Kini di ketinggian 36.000 kaki di atas padang pasir, Laila menjemput mimpinya selama ini.(Bersambung)

 

Tentang fizboi

Baca Juga

SAYA, PAK TETEN DAN SOMASI

Oleh FARID GABAN *Artikel Pilihan Lebaran ini saya mendapat kado istimewa: surat ancaman (somasi) dari …

Tinggalkan Balasan