Beranda / Headline / Menghukum yang Tak Bersalah

Menghukum yang Tak Bersalah

Sobri, pemuda lugu itu menerima barang yang dibungkus kain. Taripol yang memberikannya. Tugas Sobri hanya mengantar barang itu dengan upah tertentu. Sobri baru tahu barang yang dibawanya itu sebuah toa masjid yang dicuri Taripol setelah ia ditangkap polisi di perjalanan. Meski ia menceritakan peristiwa sesungguhnya pada polisi, ia tetap ditahan. Sebab ia tak bisa membuktikan ceritanya itu.

Itu penggalan kisah di novel Andrea Hirata berjudul Badut Sirkus. Pelajarannya; kadang orang harus menangungg hukuman bukan karena kesalahannya. Dan itu kisah kehidupan kita juga.  Dalam hidup kadang kita menghadapi hal-hal serupa itu. Dicopot dari jabatan bukan karena kesalahan kita misalnya. Dan ternyata hal itu bukan terjadi sekarang saja tetapi sudah lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Zaman Nabi Yusuf. Alquran mengabarkan kisah ini.

Ia dipenjara bukan karena kesalahannya. Tetapi menutupi malu orang yang membuat kesalahan sebenarnya. Tuannya sendiri. Meski bukti-bukti menunjukkan ia tidak bersalah tetapi ia tetap dijebloskan ke penjara. Bertahun-tahun sehingga orang hampir lupa dia masih ada atau tidak. Begitulah hidup. Kadang tidak bisa dimengerti.

Rupanya kita manusia bila memiliki kuasa punya kecenderungan untuk korup. Menyalahgunakan apa saja. Penggunaan kekuasaan tersebut bukan tanpa penyakit, seperti yang dikemukakan oleh Lord Acton mengetengahkan suatu dalil yang amat popular yaitu: “Power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely (kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan dan kekuasaan mutlak pasti dipersalahgunakan.)

Cara yang paling efektif membatasi kekuasaan adalah melalui hukum yaitu konstitusi, undang-undang dan peraturan pelaksanaan lainnya. Karena, pembatasan kekuasaan dilakukan melalui cara hukum, maka lahirlah konsep Negara hukum yang demokratis atau dengan kata lain pemerintah berdasarkan konstitusi. Negara hukum yang demokratis yaitu pemerintahan yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya.

Tapi kenyataan tak selalu sejalan dengan aturan. Begitulah realitas. Sebuah eksperimen psikologis sederhana membuktikannya. Namanya eksperiman kue. Saya baca ini di buku Ajhn Bhram. Sejumlah orang dibagi beberapa kelompok.  Tiap kelompok ada tiga orang diberi peran berbeda. Dua pekerja satu pengawas. Saat setiap kelompok itu mulai bekerja keras, si pembuat percobaan memberi masing-masing kelompok itu empat potong kue.

Dalam psikologi orang barat tidak ada yang akan memakan kue keempat, itu hal yang tabu. Memalukan. Hasil eksperimen menunjukkan kue keempat selalu  diambil oleh orang yang diberi peran lebih tinggi yakni mengawasi kerja kedua anggotanya alias si pengawas. Mereka selalu berfikir mereka selalu merasa berwenang mendapat lebih. Mendapat kue keempat. Sebab mereka menyadari bila mereka pada posisi yang berwenang peraturan tidak berlalu bagi mereka tetapi tetap berlaku bagi orang lain.

Begitulah. Dengan eksperimen kecil itu kita bisa melihat realitas besarnya. Itu sebabnya Tuhan menempatkan seorang pemimpin yang adil sebagai urutan pertama yang akan dapat naungan di hari yang kelak tiada naungan (kiamat). Sebab jadi pemimpin yang adil itu bukan mudah. Jika sekarang posisi anda seorang pemimpin pilihan ada di tangan anda. Menjadi jujur dan adil atau tidak.

Helfizon Assyafei

Pekanbaru, 17 Okt 2019

 

 

 

 

Tentang fizboi

Baca Juga

SAYA, PAK TETEN DAN SOMASI

Oleh FARID GABAN *Artikel Pilihan Lebaran ini saya mendapat kado istimewa: surat ancaman (somasi) dari …

Tinggalkan Balasan