Beranda / Headline / Perjuangan Masuk Raudah

Perjuangan Masuk Raudah

*Serial Travelling (Liputan Umroh, Bagian-2)

Jam menunjukkan pukul 3 dini hari waktu Madinah. Udara dingin masuk memenuhi udara kamar hotel, membuat keinginan meringkuk dalam selimut datang kembali. Saya lupa menutup jendela kamar yang terletak di lantai 12 ini. Kami satu kamar empat orang. Teman sekamar tampaknya masih menikmati mimpi. Waktu Salat Subuh masih dua jam lagi. Tapi cobalah melongok dari jendela kamar hotel. Sebuah pemandangan menakjubkan tersaji di bawah sana.

Laporan Helfizon Assyafei, Madinah

Ribuan orang berpakaian putih-putih sudah menyemut di jalanan seputar hotel menuju ke satu arah: Masjid Nabawi. Di masjid Nabawi ada bekas rumah dan masjid Nabi yang asli. Masjid Nabi yang asli luasnya kira-kira 10 x 10 meter saja lagi dibanding keseluruhan bangunan. Bekas rumah Nabi Muhammad itu kini telah jadi pusara Nabi dan dua sahabatnya Abu Bakar Siddik dan Umar bin Khattab.

Ruang 10 x 10 meter itulah yang disebut Taman Raudah. Tempat jadi rebutan jamaah haji dan umroh sedunia untuk dapat salat di sana.  Saat kami memasuki masjid pukul 3.30 waktu setempat, lokasi itu sudah penuh dan berdesak-desakan. Lokasi itu mudah menandainya karena karpetnya beda dengan bagian lain masjid, tapi sulit memasukinya karena ketatnya persaingan sesama jamaah.

Di Madinah perjuangan mendapat tempat salat di Raudah sama kerasnya dengan upaya dapat mencium batu Hajar Aswad di sisi Kakbah. “Di sinilah etos kerja Islam yang bisa kita petik hikmahnya. Untuk dapat hal yang terbaik dalam hidup harus berjuang,” ujar ustad Sarman Mirja. Memang masjid Nabawi luas dan mampu menampung 1 juta jamaah. Namun untuk merasakan salat di bekas masjid nabi yang sebenarnya di bawah mimbar dan dekat mihrabnya perlu perjuangan ekstra keras.

Tak semua jamaah yang datang ke sini beruntung mendapatkannya. Apalagi kalau mudah menyerah melihat lautan manusia yang ingin mendapat kesempatan yang sama itu. Kami merangsek masuk. Terhimpit, tersikut, terinjak kaki dan akhirnya alhamdulillah berhasil masuk.  Salat di Masjid Nabawi sungguh nikmat. Apalagi di Taman Raudah. Getaran spiritualnya tinggi sekali. Meski berdesak-desakan namun tak ada marah apalagi emosi. Begitu salam ke kanan tampak bangunan masjid yang luas.

Salam ke kiri tak jauh dari kita di balik dinding satunya lagi sudah makam Roasulullah dan dua sahabat terkemuka Abu Bakar dan Umar.  Untaian salawat tiada putus dari bibir para jamaah. Usai salat kita juga bisa menziarahi makam Rasul saat akan keluar masjid meski tak bisa lama karena dijaga petugas polisi setempat. Ini untuk menghindari tindakan berlebihan para peziarah di makamnya. Suasananya begitu syahdu dan penuh rindau pada Rosul yang mulia itu..(Bersambung)

 

 

Tentang fizboi

Baca Juga

SAYA, PAK TETEN DAN SOMASI

Oleh FARID GABAN *Artikel Pilihan Lebaran ini saya mendapat kado istimewa: surat ancaman (somasi) dari …

Tinggalkan Balasan