Beranda / Note / Kita Semua Sudah Kalah

Kita Semua Sudah Kalah

Oleh Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

*Artikel Pilihan

Kita semua sudah kalah. Kehidupan perlahan-lahan berubah. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menyesuaikan diri. Bus Transjakarta yang awalnya langsung menerapkan aturan transaksi non-tunai bagi penumpang yang akan melakukan top up kartu, belakangan menutup sama sekali loketnya, dan –untuk sementara– tidak melayani pengisian kartu pembayaran. Dan, tak seorang pun tahu, sampai kapan “untuk sementara” itu.

Belakangan lagi, aturan terus bertambah: penumpang tanpa masker dilarang masuk ke halte, yang itu artinya dilarang menggunakan jasa transportasi umum itu. Di dalam armada bus, kursi-kursi ditandai dengan silang merah besar-besar untuk mengatur jarak antarpenumpang. Di kursi-kursi dengan tanda silang merah itu, penumpang dilarang mendudukinya. Semua penumpang tampak memakai masker, mentaati aturan untuk physical distancing, dengan wajah yang menyiratkan kemuraman.

Sementara di luar jendela kaca, kota tak kalah muram –sunyi dan lengang. Seorang perempuan berjilbab penjaja kopi keliling dengan sepeda melintas pelan di trotoar depan sebuah museum yang tutup. Seekor kucing meringkuk di bawah pohon dengan tatapan kosong, seolah-olah bertanya, ke manakah orang-orang? Ke mana orang-orang yang biasa sibuk berlalu lalang, dan di antara mereka, kalau dirinya sedang beruntung, ada yang memberinya makan?

Seperti halnya beberapa orang yang duduk saling berjauhan di dalam bus, benak si kucing itu terus bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kehidupan ini? Sementara si kucing menggaruk-nggaruk lehernya dengan kaki belakangnya, orang-orang di dalam bus makin tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri. Sambil sesekali melihat ke sekeliling, mereka membatin, tengah mengalami zaman apakah kita ini –duduk berdekatan dengan orang lain mendadak menjadi sesuatu yang menakutkan, dan dengan demikian harus dihindari.

Jadi, sekarang, bukan virus itu sendiri yang menjadi masalahnya. Pun bukan apakah kita terinfeksi atau tidak terinfeksi –bukan itu isunya. Kita telah melaksanakan apapun kebijakan dan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, sambil diam-diam mulai merasa yakin bahwa di antara kita barangkali saja sudah terinfeksi virus itu, hanya saja kita tidak tahu, dan tidak mengalami gejala, karena mungkin sistem pertahanan tubuh kita prima. Semua serba mungkin. Dan semua tidak ada bedanya.

Ya, kita semua sudah kalah. Kita menyerah. Kita masuk ke rumah-rumah, mengurung diri, dari awalnya 14 hari, namun kemudian terus memperpanjangnya, lagi dan lagi, sampai tidak tahu lagi, kapan akan mengakhiri masa isolasi diri ini. Semua sudah tidak ada bedanya lagi. Terinfeksi atau tidak terinfeksi, kita semua sudah terkena pengaruhnya, dan harus menyesuaikan diri dengan cara-cara menjalani kehidupan, dari awalnya dengan anggapan “ini situasi yang tidak normal” menjadi “inilah situasi normal baru itu”.

Bangun tidur, kita merasa asing, karena rutinitas telah terhenti. Tak ada lagi keterburu-buruan untuk berangkat ke kantor. Kita perpanjang waktu rebahan di kasur, melihat-lihat dunia dan perkembangannya dari time line media sosial, memelototi angka-angka, berapa lagi yang terinfeksi, berapa lagi yang mati, dan telah menyebar sampai ke mana virus itu hari ini. Sampai lama kelamaan, seiring waktu yang berlalu beku, kita sudah tak mampu lagi membaca dan memaknai angka-angka itu.

Atau, seperti kata seorang teman, lama-kelamaan kita tak terlalu peduli lagi sama laporan angka-angka tiap sore. Kita mulai mikir besok makan apa. Kucing-kucing di jalanan bagaimana kondisinya. Keluarga di kampung apa kabarnya. Manusia tidak dibentuk untuk hidup dikurung dengan atau tanpa jeruji.

Tak lama lagi, kita akan menerima virus ini sebagai kondisi normal. Kita akan melanjutkan hidup dengan mulai melakukan aktivitas ekonomi, sekolah, dan keseharian lain, dengan jaga jarak saat di luar rumah, memakai masker, dan langsung pulang sehabis berkegiatan.

Tak ada lagi salaman, tak ada lagi cipika-cipiki, tak ada lagi berdiri berdekatan saat antre. Kita tidak bisa mengalahkan virus itu, kita mesti hidup bersamanya….

Note:

Kartun Majalah Tempo: yang di dalam dikeluarin, yang di luar dimasukin.

Tentang fizboi

Baca Juga

Calon Wali Kota Solo

Oleh Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa (Artikel Pilihan) Sudah jadi pola kekuasaan, selalu …

Tinggalkan Balasan