Beranda / Note / Bintang di Bumi

Bintang di Bumi

Σε αυτό το σημείο, κανείς δεν ξέρει ακριβώς πότε ξεκινά η κύρια διαδικασία ή τι προκαλεί τη χαμηλότερη τιμή για το Augmentin στην Αυστραλία. Με την πρώτη ματιά, οι ασθενείς από το Αρκάνσας, Φλόριντα και το Τέξας συμπληρωθεί με γύρη από προσωρινή δέντρα μπορεί να έχει μια σεζόν γύρη ασθενής https://clisgreece.gr/viagra-soft-greece.html ήδη από το τσιμπούρι ή παρατήρηση χρόνο.
Oleh Helfizon Assyafei

(Refleksi satu tahun fizway.id)

Perjuangan guru-guru di daerah terpencil Indonesia.

 

PENGALAMAN mengajarkan saya ini; menulis mungkin tidak akan mengubah dunia. Tapi setidaknya bisa berbagi sudut pandang baru. Melihat foto-foto perjuangan guru-guru di daerah terpencil ini, ingatan saya melayang ke beberapa tahun l alu. Ketika itu saya dalam sebuah tugas liputan turun ke sebuah pelosok daerah terpencil. Namanya Dusun Sadan.

Sadan hanya sebuah dusun kecil di bawah kaki bukit tigapuluh. Masuk kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Terletak di bibir Batang Gangsal dan dikelilingi hutan. Ia adalah bagian dari Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Dari Kota Pekanbaru kita harus menuju Pematang Reba-Rengat melewati Jalan Lintas Timur berjarak tempuh 196 Km. Dari Pematang Reba menuju pintu masuk melalui simpang Siberida jarak tempuh mencapai Rp50 km.

Untuk mencapai akses Sungai Gangsal di Dusun Lemang jarak tempuh dari simpang Siberida mencapai 13 Km ke dalam melewati beberapa dusun yakni Dusun Usul, Siambul, Siamang dan Lemang. Menjelang Dusun Siambul yang ada hanya jalan tanah dengan pasir dan batu (sirtu). Mobil kami hanya bisa sampai di Dusun Siambul karena rute berikutnya jalan tanah liat yang licin dan penuh lubang sebesar kubangan kerbau.

Mulai dari dusun Siambul kami harus menggunakan ojek dengan tarif Rp25.000 per orang. Melewati deretan kebun karet dan dusun-dusun kecil. Makin ke dalam kondisi jalan makin menantang. Jalan berlubang, licin dan penuh tanjakan curam dan turunan yang tajam. Gas di putar habis oleh pengendara ojek membuat mesin meraung-raung dan tubuh terguncang-guncang dengan jantung berdegup. Di beberapa tempat kami terpaksa turun karena tanjakan penuh lubang besar berlumpur.

Ketika akhirnya kami mencapai Dusun Lemang di tepian Sungai Gangsal transportasi berikutnya harus dengan perahu. Biaya sewa perahu tempel Rp800.000. Tak bisa dinego lagi dan tak ada pilihan.  Kami bergerak dari Dusun Siamang ke hulu melawan arus menggunakan perahu bermesin tempel merk Yamaha berkekuatan 15 PK. Saat kami mencapai Sadan baru saya tahu untuk mencapai sekolah yang Cuma satu-satunya di sana anak-anak SD harus berjalan menembus hutan dan menyeberangi sungai.

Sekolah yang lebih mirip gubuk itu bukan sekolah negeri. Dulu, sekolah itu tidak pernah dikunjungi  orang. Entah itu penjual kain, penilik sekolah apalagi anggota dewan. Satu-sa tunya yang rajin berkunjung a dalah seorang pria sederhana bernama Lancar. Ia kepala sekolah merangkap jadi guru di sanggar belajar itu. Lancar sejatinya bukan guru. Ia staf TNBT rekrutan lokal yang dikontrak PKHS mengajar di Sadan.

Oh ya. PKHS adalah Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS). Sebuah program kerja sama dibidang konservasi harimau sumatera antara Ditjen. PHKA, Departemen Kehutanan dengan The Tiger Foundation (TTF), Canada dan The Sumatran Tiger Trust. Intinya hutan di kawasan itu masih banyak harimaunya yang harus diselamatkan dari kepunahan.

Meski nilai kontrak  tidak seberapa, Lancar terpanggil jiwanya. Apalagi tidak banyak yang mau dan mampu bertahan di dalam hutan untuk mengajar anak-anak itu. Masuk ke sana berarti komunikasi terputus dari dunia luar. Tidak ada sinyal telepon genggam apalagi listrik.

”Sekali masuk ke dalam saya bertugas hingga 15 hari. Sisanya teman saya lainnya,” ujar Lancar yang sempat bertemu kami sehari sebelum kami turun ke Dusun Sadan. “Pernah ada keluarga yang meninggal saya tak bisa dihubungi dan baru tahun 15 hari kemudian setelah keluar dari Sadan,” kenangnya. Untuk bisa sampai ke Sadan tidak ada transportasi reguler. Oleh karena itu mereka melakukan kontrak per tiga bulan dengan warga lokal pemilik perahu mesin boat tempel. Satu kali berangkat ke dalam menuju Sadan sewa pe rahu Rp750.000. Pulang-pergi Rp1.500.00. Belum lagi biaya makan yang dianggarkan Rp30.000 per hari.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa PKHS malah tertarik membangun sekolah sedangkan bidangnya pelestarian harimau Sumatera? Santoso staf PKHS menjelaskan awalnya tidak terpikir bangun sekolah. Setelah sebuah kasus penangkapan harimau oleh pemburu dengan memperalat masyarakat lokal PKHS sadar bahwa pelestarian harimau tidak bisa secara parsial. “Kami ingin sejak dini mereka mendapatkan pendidikan agar tak mudah diperalat kelak oleh orang-orang yang punya itikad buruk,” ujarnya. Lewat mengajari anak-anak, tambahnya, pesan pelestarian lingkungan juga sampai ke orangtua mereka.

***

Itu hanya review tulisan ini. Yang saya ingin katakan adalah ini; ada orang-orang punya jasa besar tetapi tidak terlihat di bumi. Itu sebabnya penghargaan di bumi hanya untuk orang yang terlihat saja. Misalnya dekat dengan pusat kekuasaan. Ketika orang-orang penting menerima penghargaan berupa bintang Mahaputera di Istana Negara 13 Agustus 2020 lalu, Lancar dan guru-guru lain di daerah terpencil terus saja berbuat. Mereka mungkin tidak tahu jadi bagaimana pula mau berkecil hati. Tak sempat lagi untuk mengiri karena banyak hal yang harus dilakukan.

Susah sudah jadi ‘teman’ sehari-hari. Jauh dari kamera tv apalagi tepuk tangan. Mereka tidak akan bertanya mengapa Fadli Zon dan Fahri Hamzah dapat bintang. Mereka tahu keduanya adalah orang penting. Wakil mereka di DPR. Penghargaan hanya untuk orang penting. Bukan untuk orang seperti mereka. Dan mereka terus saja bekerja.

Teringat saya kata tuan guru saat kami duduk mengaji di tengah malam. “Boi, para malaikat melihat dunia ini seperti kita manusia melihat langit di malam hari. Gelapnya langit jadi indah dengan adanya bintang gemintang. Lalu apa bintang di bumi yang di lihat malaikat dari langit? Itulah mereka orang-orang yang tulus ikhlas berbuat kebaikan,” ujarnya.

Saya tercenung lama sekali…

Pekanbaru, 15 Agustus 2020

(fizway.id 15/8/2019-15/8/2020)

Sekolah di Dusun Sadan beberapa tahun lalu.

Tentang fizboi

Baca Juga

Berkurbanlah

Oleh: TereLiye (Kisah Inspiratif) Ada dua kakak-adik perempuan, kita sebut saja, satu namanya Puteri (usia …

Tinggalkan Balasan